Penataan Permukiman di Bantaran Sungai Banjir Kanal Barat

Canal de Bourgogne di Bagian Timur Perancis

Kanal atau terusan merupakan saluran air yang dibuat oleh manusia untuk berbagai keperluan. Umumnya kanal merupakan bagian dari aliran sungai dengan pelebaran atau pendalaman pada bagian tertentu. Kanal tertua, sekitar 4000 SM, dibuat untuk tujuan irigasi di Mesopotamia. Dalam perkembangan selanjutnya, kanal dapat difungsikan sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir serta dapat berguna untuk jalur transportasi/perdagangan.

Kanal Banjir Jakarta adalah kanal yang dibuat agar aliran sungai Ciliwung melintas di luar Batavia, tidak di tengah kota Batavia. Kanal banjir ini merupakan gagasan Prof. Ir. Hendrik van Breen dari Burgelijke Openbare Werken atau disingkat BOW, cikal bakal Departemen PU, yang dirilis tahun 1920. Studi ini dilakukan setelah banjir besar melanda Jakarta dua tahun sebelumnya. Inti konsep ini adalah pengendalian aliran air dari hulu sungai dan mengatur volume air yang masuk ke kota Jakarta. Termasuk juga disarankan adalah penimbunan daerah-daerah rendah.

Antara tahun 1919 dan 1920, gagasan pembuatan Kanal Banjir dari Manggarai di kawasan selatan Batavia sampai ke Muara Angke di pantai utara sudah dilaksanakan. Sebagai pengatur aliran air, dibangun pula Pintu Air Manggarai dan Pintu Air Karet.

Banjir Kanal Barat

Pembangunan saluran banjir Kanal Banjir Barat, atau juga sering disebut Kali Malang (Barat) ini dimulai tahun 1922, dengan bagian hulu berawal dari daerah Manggarai ke arah barat melewati Pasar Rumput, Dukuh Atas, lalu membelok ke arah barat laut di daerah Karet Kubur. Selanjutnya ke arah Tanah Abang, Tomang, Grogol, Pademangan, dan berakhir di Muara Angke.

Keadaan yang terjadi saat ini di kawasan tersebut adalah masih banyaknya permukiman liar warga yang berdiri di bantara sungai, meskipun setiap tahunnya warga yang berada di kawasan tersebut merasakan banjir apabila musim penghujan tiba, namun warga tersebut masih tetap bertahan. Sekiranya warga pun masih menunggu gerakan pemerintah terhadap wacana yang akan merelokasi warga daerah tersebut ke daerah bebas banjir.

Fenomena Banjir di Kawasan Kanal Barat, Jakarta

Upaya penanggulangan banjir sudah dilakukan sejak tahun 1920-an, Van Bren menyusun rencana tata air di Batavia. Menurut Van Bren, aliran-aliran sungai yang ada di Jakarta, harus digabung satu sama lain sebanyak mungkin. Untuk itu dilakukan berbagai langkah, seperti penggalian terusan banjir Krukut dari wilayah Karet ke laut.Terusan itulah yang kemudian disebut Banjir Kanal Barat (BKB). Banjir Kanal Barat menampung debit air dari Kali Krukut, Mampang, Ciliwung. Saluran yang berawal dari Manggarai tersebut jalurnya melalui pinggir/luar kota dan dibuat lebih besar dari ukuran Ciliwung yang asli. Dengan demikian, aliran banjir dapat mengalir ke laut tanpa menganggu Jakarta. Kondisi yang baik ini bertahan selama sekitar empat puluh tahun.

Tapi pertumbuhan Jakarta yang pesat serta banyaknya hunian baru di daerah aliran sungai Ciliwung, membuat banjir makin parah pada tahun 1960-an. Bukan hanya Ciliwung yang meluap tapi juga Kali Krukut, Grogol dan Cipinang. Bahkan banyaknya pemukiman di daerah-daerah tanpa dilengkapi sarana drainase yang cukup, menjadikan banjir yang terjadi lebih parah. Banjir Kanal Barat tidak bisa diandalkan lagi.

Untuk mengatasi hal itu, pada tahun 1965 dibentuk Komando Proyek pencegahan banjir Jakarta Raya, yang dikenal sebagai Kopro Banjir. Yang dilakukan adalah membangun waduk Pluit, Setia Budi, Melati, dan Tomang Barat. Keempat waduk tersebut merupakan tampungan banjir sementara yang dilengkapi dengan sistem pompa untuk pembuangan air ke sungai (khusus untuk Pluit langsung ke laut).

Selanjutnya pada tahun 1973 dibuat Rencana Induk Pengendalian Banjir oleh pemerintah RI dengan konsultan dari Nedeco Belanda. Prinsip dasarnya adalah :

  1. Kali-kali yang masuk wilayah DKI Jakarta ditangkap dan dirubah alirannya agar tidak melalui tengah kota, tapi mengelilingi Jakarta, baik ke bagian barat maupun ke timur dengan pembangunan Banjir Kanal.
  2. Untuk aliran kali-kali yang tidak tertangkap oleh banjir kanal, dibangun saluran pengendali banjir (flood way/main drain) baik di bagian barat maupun di timur Jakarta.
  3. Saluran drainase yang terletak di daerah-daerah dengan ketinggian yang cukup, pengalirannya menggunakan sistem gravitasi.
  4. Untuk daerah-daerah yang permukaannya rendah sistem drainasenya dengan waduk dan pompa.

Pengaruh dari kegiatan manusia juga dapat memperparah keadaan yang terjadi, yang dapat sedikitnya menimbulkan kebanjiran, yaitu diantaranya :

1. Pertumbuhan jumlah penduduk yang semakin pesat khususnya di kota-kota besar. Hal ini tentu saja mempengaruhi keadaan alam karena tentu saja masyarakat memerlukan fasilitas dan kegiatan yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap terjadinya masalah banjir air, banjir cileuncang, maupun jenis-jenis banjir lainnya.

2. Pembangunan di daerah rendah yang merupakan daratan banjir yang sebenarnya rawan terhadap genangan air untuk berbagai keperluan seperti pemukiman, industri, perkantoran, maupun pertanian. Selain itu kurangnya perhatian dan antisipasi adanya resiko banjir yang bisa terjadi setiap saat ketika musim penghujan.

3. Perilaku dan pola hidup masyarakat kota dan daerah pedesaan dapat kita lihat cukup mencolok perbedaanya. Masyarakat pedesaan lebih mampu bersahabat dengan ekosistem alam sekitarnya dan juga terbiasa melakukan penghijauan di sekitar lingkungannya. Sedangkan masyarakat kota seringkali tidak menghiraukan aspek lingkungan. Contohnya adalah pencemaran seperti buang sampah sembarangan, pengurangan lahan hijau, dan pengurangan tanah lapang. Kehidupan masyarakat kota yang serba praktis menyebabkan beberapa dampak negatif terhadap keberlangsungan ekosistem darat dan ekosistem air di daerah sekitar (baca: pencemaran yang mengakibatkan perubahan alam).

4. Program pembangunan yang tidak terpadu di daerah perkotaan. Terlihat dari banyaknya gedung-gedung bertingkat dan jalanan beton yang menggusur tanah-tanah resapan air, bahkan banyak danau kecil yang ditimbun tanah untuk dijadikan mall atau gedung apartemen. Tanpa memikirkan bagaimana air hujan yang datang setiap musim penghujan akan dialirkan, pada pengembang tidak memikirkan secara matang bagaimana seharusnya bangunan yang ramah terhadap lingkungan sehingga tidak menimbulkan bencana khususnya bencana banjir yang tidak jarang merenggut korban jiwa. Selain itu perlunya edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan hidup yang berkesinambungan (Baca: fungsi lingkungan hidup).

5. Bangunan-bangunan silang di sepanjang bantaran sungai dan juga daerah aliran sungai lainnya yang sering menimbulkan gangguan terhadap kelancaran aliran banjir.

KONSEP PENATAAN PERMUKIMAN DI BANTARAN SUNGAI BANJIR KANAL BARAT

1. Menuju Bantaran Hijau

Keberadaan bantaran sungai secara primer adalah untuk kepeningan sungai, kepentingan air. Konsep keberlanjutan pada penataan lingkungan bantaran sungai tidak lepas dari tujuan konservasi sumber daya air. Hal itu terkait beberapa persoalan lingkungan yang berujung pada tiga permasalahan klasik air, yaitu kekeringan, banjir, dan ketersediaan air bersih sebagai indikasi ketidakseimbangan peredaran air terutama di ruang darat.  Untuk memenuhi konsep konservasi sumber daya air, prinsipnya yaitu bagaimana bisa menahan aliran permukaan sebesar-besarnya dan memberi kesempatan selama-lamanya untuk meresap ke dalam tanah.

Konsep Bantaran Hijau diharapkan dapat meningkatkan tingkat bisnis pariwisata di kota Jakarta

2. Normalisasi Sungai

Normalisasi sungai menjadi salah satu cara untuk mengendalikan banjir Jakarta. Namun, model ini sebetulnya hanya salah satu alternatif penyelesaian masalah jangka pendek. Proses peningkatan kapasitas sungai memang akan berkontribusi pada proses pengurangan genangan banjir. Namun, di sisi lain, normalisasi kini dianggap sebagai cara kuno dalam pembangunan sungai dan berdampak lingkungan alam dan sosial.

Secara umum, normalisasi sungai diketahui warga sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas sungai dengan mengeruk sedimentasi yang ada. Sebenarnya, aktivitas normalisasi sungai tidak hanya itu. Agus Maryono (2003) dalam buku “Pembangunan Sungai dan Dampak Restorasi Sungai” menyebutkan, kegiatan normalisasi meliputi pengerasan dinding, pembangunan sudetan, tanggul, serta pengerukan sungai. Aktivitas koreksi sungai tersebut mirip dengan pembangunan sungai yang marak dilakukan pada abad 17 sampai 20.

Peningkatan kapasitas Banjir Kanal Barat di bagian Hulu: Di sekitar Jembatan Halimun dan Jembatan MS. Mansur

3. Menegakkan Aturan Tata Ruang Kota

Rencana tata ruang kota Jakarta di Buat untuk mewujudkan ruang yang aman, nyaman, dan berkelanjutan bagi warganya. Namun, masih terjadi pelanggaran terhadap aturan tersebut. Selama tiga bulan terakhir, 744 aduan masuk melalui aplikasi Qlue terkait pelanggaran aturan tersebut. Laporan masuk terbanyak (360 aduan) adalah bangunan liar di bantaran sungai, di atas saluran air/sungai, di jalur hijau, ataupun di area fasilitas umum. Laporan keberadaan bangunan liar tersebut banyak terjadi di Jakarta Barat. Bangunan tanpa surat IMB dan yang melanggar garis sempadan bangunan, serta rumah yang dijadikan tempat usaha juga banyak dilaporkan oleh warga Jakarta karena mengganggu lingkungan. Pemprov DKI berupaya mengembalikan ruang kota sesuai aturan yang berlaku, tapi tidak mudah menyelesaikannya. dari 744 keluhan, baru 9,4 persen yang selesai ditangani. Sisanya masih menunggu dan dalam proses penanganan.

Keluhan Warga Terkait Pelanggaran Izin Bangunan

Keluhan Warga Terkait Pelanggaran Izin Bangunan

 

Sumber :

http://netsains.net/2008/11/mengenal-kanal-dan-fungsinya/

https://id.wikipedia.org/wiki/Kanal_Banjir_Jakarta

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/artikel-tentang-banjir/sutiyoso/

http://www.kompasiana.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s